Jumat, 17 Februari 2017

Wasiat Bagi Suami Penuh Cinta

Bismillaah

Seorang suami hendaknya memahami sifat-sifat positif istrinya, sehingga dapat memanapkan hatinya dan memahami sifat-sifat megatifnya, sehingga dapat membantu menghilangkannya. Suami juga hendaknya selalu menjaga penampilannya di dalam rumah.

Hal ini seiring dengan sabda Rasulullaah shallallaahi 'alayhi wa sallam, "Cucilah pakaianmu, sisirlah rambutmu, bersiwaklah (gosok gigi), dan berhiaslah untuk istrimu."

Suami harus menjadi teladan bagi istri, berusaha memahami dirinya sendiri, melihat kekuranganya melalui interaksi dengan istri dalam suasana saling percaya, hormat, sukarela, dan berusaha untuk mengubah kekurangan tersebut.

Suami harus bersabar ketika ingin memperbaiki perilaku negatif istrinya. Menempatkan diri pada posisi istri fan membayangkan bila kesalaha itu dilakukannya sendiri. Lalu, ia berpikir bagaimana keluar dari kesalahan atau karakter negatif itu tanpa paksaan dan tekanan. Ia lakukan dengan kelembutan, tanpa hinaan, celaan serta amarah, namun dengan motivasi, pujian dan uluran rangan.

Suami harus menghindari perkataan kasar dan perintah langsung kepada istri. Hendaknya ia menggunakan perkataan yang lembut, sanjungan, dan pujian dengan perkataan yang jujur, penuh cinta dan kasih sayang. Sebab seorang suami disebut bakhil bukan hanya karena tidak menafkahkan hartanya semata, tapi juga karena tidak mau menangkap perasaan cinta, rayuan, dan perhatian kepada istrinya.

Bila suami mendengar sang istri berbicara ynag tidak menyenangkan, hendaknya ia segera mengubah topik pembicaraan. Seakan-akan ia tidak mendengarnya. Suami harus memintanya denga tutur kata yang sopan, cakap, penuh basa-basi, dan pujian, supaya istri juga bertutur kata yang baik seperti dirinya.

Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wa salla bersabda, "kedewasaan diperoleh dengan belajar dewasa dan ilmu diperoleh dengan belajar. Orang yang mencari kebaikan pasti akan menemukannya, dan siapa yang menjauhi kejahatan pasti akan terhindar darinya."

Suamiyang bersabar dalam menghadapi istrinya pada hakikatnya sedang menyucikan jiwanya dengan meredam amarah, belajar budi pekerti yang baik, menerima kesalahan istri, dan bisa menghadapi situasi sulit dengan hati yang teguh, pikiran yang jujur, lembut, dan bijaksana. Bahkan dengan nasihat dan senyuman.

Suami melakukan itu semua untuk mencari ridha Allaah subhaanahu wata'ala dan ia akan diberi pahala sesuai dengan kadar keikhlasannya. Allaah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang telah berbuat baik.

Satu hal yang menyusahkan suami adalah bila ia membuat sati gambaran tentang istri ideal yang mantap dan tidak dapat diubah. Lalu, ia bergaul dengan istrinya dengan gambaran tersebut.

Inilah yang menyebabkan perselisihan. Dengarlah ungkapan penyair ini, sehingga anda terbenas dari perselisihan.

"Wanita bagaikan pohon buah yang tumbuh bersamaan, sebagiannya ada yang pahit, namun ada sebagian yang enak dimakan, walaupun wanita dicipta dari emas, tetaplah ada kebodohan yang gersang disana."

Dari sinilah Dr. Kamil Al-Buhi menasihatkan, "Suami harus memahami kebiasaan istri, sabar menghadapi kejelekannya, tidak terpancing untuk memperturutkan hawa nafsu, selalu ingin berbuat baik, meluruskannya, memenuhi haknya, dan melupakan kelalaiannya.. "


~ Al Faqiirah yang ingin belajar untuk menjadi dewasa dan istri yang salihah. Semoga Allaah merahmatimu wahai para suami.

Dari kitab Menjadi Pengantin Sepanjang Masa, Syaikh Fuad Shalih, Hal. 280

Sabtu, 21 Januari 2017

Petuah Ulama, Pentingnya Menjaga Waktu

Bismillaah

Inilah nasehat berharga dari para ulama kita. Sungguh di zaman ini, kita akan melihat banyak orang yang menyia-nyiakan waktu dan umurnya dengan sia-sia. Kebanyakan kita saat ini hanya mengisi waktu dengan maksiat, lalai dari ketaatan dan ibadah, dan gemar melakukan hal yang sia-sia yang membuat lalai dari mengingat Allah. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Pada tulisan kali ini, kami akan menyajikan perkataan-perkataan ulama terdahulu mengenai pentingnya menjaga waktu. Semoga dengan merenungkan nasehat para ulama berikut, kita dapat menjadi lebih baik dan tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu. 

Ketahuilah bahwa Engkau Seperti Hari-harimu
Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[1]

Waktu Pasti akan Berlalu, Beramallah
Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,

إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.

Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”[2]
Waktu Bagaikan Pedang
Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

صحبت الصوفية فلم أستفد منهم سوى حرفين أحدهما قولهم الوقت سيف فإن لم تقطعه قطعك

“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”
Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia
Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain:

ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل

Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”[3]

Waktu Berlalu Begitu Cepatnya
 Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung).
Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu
Lalu Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.”[4]
Janganlah Sia-siakan Waktumu Selain untuk Mengingat Allah
Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[5]
Ya Allah, mudahkanlah kami selaku hamba-Mu untuk memanfaatkan waktu ini dalam ketaatan dan dijauhkan dari kelalaian. Amin Yaa Mujibas Saailin.
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi hati yang ingin terus disirami.

Diselesaikan di Pangukan, Sleman, 6 Muharram 1430 H (di pagi hari yang penuh berkah)
***
Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi
[2] Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah
[3] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
[4] Al Jawabul Kafi, 109
[5] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah

Harta Hanyalah Titipan Ilahi

Bismillaah

Yang harus engkau ingat dalam benakmu ... Hartamu hanyalah titipan ilahi.

Allah Ta’ala berfirman,

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7)

Faedah dari ayat di atas:
Pertama: Perintah untuk beriman pada Allah dan Rasul-Nya.
Kedua: Dorongan untuk berinfak.
Ketiga: Pahala yang besar di balik, iman dan infak.
Keempat: Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebagaimana halnya seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak. ”
Al Qurtubhi sekali lagi mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian bukanlah miliki kalian pada hakikatnya. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta tersebut yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian. ”

Lantas Al Qurtubhi menutup penjelasan ayat tersebut, “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara kalian, lalu mereka menginfakkan harta mereka di jalan Allah, bagi mereka balasan  yang besar yaitu SURGA.” (Tafsir Al Qurthubi, 17/238)
Intinya maksud Al Qurthubi, harta hanyalah titipan ilahi. Semua harta Allah izinkan untuk kita manfaatkan di jalan-Nya dalam hal kebaikan dan bukan dalam kejelekan. Jika harta ini pun Allah ambil, maka itu memang milik-Nya. Tidak boleh ada yang protes, tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang merasa tidak suka karena manusia memang orang yang fakir yang tidak memiliki harta apa-apa pada hakikatnya.
Renungkanlah hal ini ... !

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Panggang-GK, 25 Jumadil Awwal 1431 H

Jumat, 13 Januari 2017

Jangan Karena Menikahi Wanita Menjadikan Lupa Segalanya

Bismillaah 

 Ini nasehat berharga bagi pengantin baru.
Perlu dipahami bahwa ternyata menikah belum tentu buat orang jadi lebih baik.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan tinggalkan majelis ilmu.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan meninggalkan kitab-kitab yang dulu sehari-hari ia geluti.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan merontokkan jenggotnya.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan turunkan celananya di bawah mata kaki.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan mengecilkan jilbabnya bahkan sampai tidak berjilbab.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan tergiur dengan dunia.
Ada yang sudah menikah malah perlahan-lahan meninggalkan shalat berjamaah yang keutamaannya 27 derajat.
Moga jadi renungan …
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali Imran Ayat: 14)
Di dalam ayat ini kata Ibnu Katsir rahimahullah, Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan wanita karena cobaan dari seorang wanita pada pria begitu dahsyat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Namun jika maksud dari menikahi wanita adalah untuk menjaga diri dari zina, juga untuk memperbanyak keturunan, ini sesuatu yang dituntut dan diharap, dianjurkan pula. Itulah sebabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkan memperbanyak istri, tujuannya adalah untuk itu. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 323)
Syaikh As Sa’di mengatakan bahwa kenikmatan dunia yang disebutkan dalam ayat itulah syahwat dunia terbesar, yang lain adalah ikutan dari syahwat tersebut. (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 124).
Intinya, moga nikmat dunia tidak menjadikan kita terbuai sehingga lalai dari tujuan kita beribadah dan mempersiapkan diri untuk perjalanan akhirat.
Disusun di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 21 Dzulqo’dah 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal


Diambil dari Aplikasi  Offline Rumaysho.com Versi 3 (08/2015) 
Untuk jadi renungan... 
Ummu Abiha

Sabtu, 07 Januari 2017

Wasiat Ulama Salaf

Bismillaah...

Imam Al-Auza'i rahimahullaah berkata, "Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Sahabat tegak diatasnya! Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan! Dan tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang telah mencukupi mereka."

Beliau rahimahullaah juga berkata, "Hendaklah engkau berpegang pada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolakmu. Jauhkanlah dirimu dari pendapat orang (yang menyalahi Shalafush Shalih) meskipun ia menghiasi pendapatnya dengan perkataan yang indah."


Inilah jalan Salaf, dan inilah jalan menuju Surga.

Rabu, 21 Desember 2016

Ahlussunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar ketika Mendapat Ujian atau Cobaan, Bersyukur ketika Mendapat Kesenangn serta Ridha terhadap Pahitnya Qadha’ dan Qadar



Bismillaah

Ahlussunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar ketika Mendapat Ujian atau Cobaan, Bersyukur ketika Mendapat Kesenangn serta Ridha terhadap Pahitnya Qadha’ dan Qadar

Sebagaimana yang disebutkan Allaah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap bersiap siaga (di batasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allaah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran :200)*

Sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam :
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan maka ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dain jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.**

Begitu juga tentang orang-orang yang bersabar lagi bersyukur kepada Allaah subhanahu wata’ala, maka Allaah subhanahu wata’ala akan memberinya petunjuk di dunia dan di akhirat.

Menurut para ulama: “Bahwasannya iman itu ada dua bagian, sebagian adalah sabar dan sebagian lagi adalah syukur.” Para ulama salaf berkata: “Sabar adalah sebagian dari iman.” Allaah mengumpulkan sabar dan syukur dalam Al – Quran, yaitu firman-Nya:
“… Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allaah) bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur.” (QS. Asu-syuuraa : 33)***

Iman dibagun atas dua rukun, yaitu yakin dan sabar. Dua rukun ini Allaah sebutkan dalam firman-Nya:
“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat kami (QS. As-Sajdah:24)

Denga keyakinan, seseorang akan tahu hakikat perintah dan larangan, ganjaran dan siksaan. Dan dengan kesabaran ia bisa melaksanakan perintah-Nya dan menahan dirinya dari apa yang dilarang-Nya. ****

Sabar dapat dibagi menjadi tiga macam:
1.       Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan
2.       Sabar dalam menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiat
3.       Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian yang pahit

Syukur adalah pangkal iman, dan dibangun di atas tiga rukun :
1.       Pengakuan hati bahwa semua nikmat Allaah yang dikaruniakan kepadanya dan kepada orang lain, pada hakekatnya adalah dari Allaah subhanahu wata’ala.
2.       Menampakkan nikmat tersebut dan menyanjung Allaah subhanahu wata’ala atas nikmat-nikmat itu.
3.       Menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Allaah  dan beribadah dengan benar hanya kepada-Nya. Wallaahu ta’ala a’lam. *****

Sabar dan syukur merupakan factor penyebab bagi pelakunya untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allaah. Hal ini karena iman dibagun di atas sabar dan syukur. Sesungghnya pangkal syukur adalah tauhid dan pangkal sabar adalah meninggalkan hawa nafsu.



1.  Lihat sebagian ayat tentang sabar: QS. Al Baqarah : 45, 153-157, Alim Imran: 142, An Nahl: 126-127, Al Lukman : 17, Az-Zumar: 10, Al-Muzammil:10, dan lainnya
2.  **Shahih: HR Muslim (no. 2999 (64)), Ahmad (VI/16), ad-Darimi (II/318), dan Ibnu Hibban (no. 2885, at-Ta’liqatul Hisaan ‘alaa shahiih ibn hibban, dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan –rahimahullah. Lafazh ini milik Muslim.
*     ***Lihat juga QS Ibrahim :5, Lukma:31, dan Saba’:19
4.  ****Lihat ‘idatus shabiriin wa dzakiiratus Syaakiriin (hlm. 176) oleh bnu Qoyyim Al jauziyah, at ta’liq dan takhrij  Syaikh Salim  bin ‘Ied al-Hilali, cet. II, Daar Ibnul jauzi, th 1421 H.
5.   *****Lihat fawaa-idul fawaa-id (hlm. 142) oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, ta’liq dan takhrij oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halaby al-atsari, cet. Daar Ibnul Jauzi, th. 1417H.


Dari Kitab : Syarah AQIDAH Ahlussunnah wal Jama'ah, Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafii, cet.XIV, th. 2015

Selasa, 29 November 2016

Ketauhilah, Bahwa Setiap Orang Bisa Merubah Akhlaknya!

Bismillaah

Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, 
 "Orang yang paling dekat kedudukannya dengan di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi, di shahihkan oleh Al- Albani dalam As-Shahihah no. 791)

Berdasarkan hadits ini, jika seseorang ingin dekatdengan Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat, maka ia harus memperbaiki akhlaknya. Karena Rasulullaah Shallallaahu 'alayhi wa sallam mengatakan bahwa yang paling dekat dengan Beliau di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. 

Ini menunjukkan keutamaan keistimewaan akhlak yang mulia. Dia adalah amalan yang spesial. Dengan demikian janganlah kita menyangka bahwa amalan itu hanyalah shalat, puasa, zakat, dan amalan mahdhah lainnya, tetapi akhlak yang mulia juga merupakan amalan yang sangat spesial dan sangat mulia di sisi Nabi shallallaahu 'alayhi wa sallam. 

Karena itu, hendaknya seseorang berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Janganlah ia mengatakan, 
"Saya tidak bisa merubah akhlak saya"
"Saya memang begini modelnya"
"Saya diciptakan begini modelnya, tabiat saya memang seperti ini"
dan kalimat-kalimat lain semacamnya. 

Ketauhilah, sendainya akhlak tidak bisa diubah, lalu untuk apa hadits-hadits tentang akhlak mulia yang sedemikian banyak? Untuk apa Allaah menurunkan ayat-ayat yang memotivasi orang-orang untuk berakhlak mulia? 

Semua ayat dan hadits yang memotivasi seseorang untuk berakhlak mulia itu menunjukkan bahwa akhlak bisa diubah. Seorang yang pelit bisa jadi dermawan. Seorang pemarah bisa jadi penyabar, dan seterusnya. Karena itu, jangan sampai seseorang mengatakan, 
"Saya memang suka marah"
"Saya memang tempramental"
Jangan!
"Saya begini adanya"


Ketauhilah, bahwa setiap orang bisa merubah akhlaknya. Ia bisa berlatih dan membiasakan diri agar menjadi orang yang baik akhlaknya. Oleh karenanya, dalam hadits Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Aku menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang terindah akhlaknya." Dalam riwayat lain, "Bagi orang yang memperindah akhlaknya." 
Menurut kedua hadits ini, akhlak yang mulia itu bisa  diperoleh, diarih. 

Dalam hadits lain Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda, 
"Barang siapa yang berusaha bersabar, maka Allaah akan jadian ia penyabar." (HR. Bukhari no. 1.469) 

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang pemarah bisa jadi penyabar. karenanya para pembaca yang dirahmati oleh Allaah subhanahu wata'ala, hendaknya kita senantiasa memperbaiki diri dan membiasakan diri dengan akhlak-akhlak yang mulia agar kita bisa mendapatkan keutamaan yang banyak sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits diatas. 


Diambil dari buku "Muslim Yang Paling Sempurna Imannya, Yang Paling Baik Akhlaknya hal. 28-30" oleh Ustadz Firanda Andirja, MA Hafidzohullaahu ta'ala